Lajnah Falakiyah

Selasa, 04 Oktober 2011

MULAI IJTIMA, KETINGGIAN DAN LAMANYA HILAL


Kurangilah qoidahnya 24 dengan jam, menit dan detiknya alamat muaddalah kota anda, maka akan diketahui mulainya ijtima. Apabila jam, menit dan detiknya sa’atul ijtima tersebut dikalikan 30 atau dibagi 2, maka akan diketahui pula ketinggiannya hilal. Kemudian ketinggian hilalnya dikalikan dengan qoidah 4, hasilnya adalah lamanya hilal diatas ufuk.

ALAMAT MUADDALAH


 Bab - IX
Untuk mengetahui alamat muaddalahnya Betawi maka harokat alamat harus dikurangi nilainya ta’dil alamat, dan sisa dari pengurangannya itulah alamat hari, jam, menit dan detiknya ijtima di Betawi (kota Jakarta).
Misal alamat muaddalahnya Jakarta menunjukan yaum 1, saah 3, dan daqiqoh 10; dan itu berarti terjadinya ijtima di kota Jakarta jatuh pada Malam ahad, Jam 9, Lebih 10 menit.

TA’DILUL ALAMAT


Untuk mendapatkan Ta’dil alamat nilai hissotus saah harus dikalikan terlebih dahulu dengan bu’du muaddal. Susunlah nilainya bu’du muaddal tersebut secara berurutan dari atas ke bawah dimulai dari derajat, daqiqoh dan tsawani persis di bawahnya kotak hissotus saah. Jika terjadi kekosongan salah satu dari ketiganya, biarkan saja dan tidak perlu diisi.

BU’DU MUADDAL DAN HISSOTUSSAAH

Bab VI- BU’DU MUADDAL
 Untuk menghasilkan bu’dul muaddal, maka nilainya bu’du ghoiru muaddal harus dikurangi oleh nilainya ta’dil ayyam, jika pada kolomnya bu’du ghoiru muaddal nilai tsawalis kosong ambilah dari angka di depannya. Dan pada bagian ini telah dimulai perhitungan detik, menit dan jam, yang berarti telah dimulai pula batasan-batasannya, dan hasil dari pengurangan antara bu’du ghoiru muaddal dengan ta’dil ayyam ini dinamakan bu,du muaddal.
Dan ketika ta’dil ayyam tidak mempunyai nilai atau kosong karena dari satar awal dan satar tsani sama–sama tidak mempunyai nilai, maka bu’du ghoiru muaddal langsung menjadi bu’du muaddal.

TA’DIL AYYAM


Bab V-Ta'dil

Untuk mengetahui ta’dil ayyam sama halnya dengan mencari ta’dil hoosoh yaitu mempertemukan buruj dan derajatnya muqowwamus syamsi pada buruj dan derajatnya jadwal ta’dil ayyam (tabel 6). Ambilah nilainya satar awal dan satar tersebut pada titik pertemuannya. Dalam ta’dil ayyam ini menggunakan dua kasr mahfud karena dalam setiap derajat yang tercantum dalam tabel tersebut masing-masing berkelipatan 5. Mulai dari 0, 5, 10, 15, 20, dan 25 derajat. Bila dalam derajatnya muqowwamus syamsi kurang dari 5, maka masukanlah pada derajat 0, dan bila kurang dari 10 derajat maka masukan ke derajat 5.

WASSATUSSYAMSI


Bab IV-Ta'dil


Tambahkan harokat Markaz pada harokat Auj, mulai dari daqiqoh dengan daqiqoh, derajat dengan derajat dan buruj dengan buruj. Penjumblahannya pun tidak boleh melebihi batasan-batasan yang telah ditetapkan, maka hasilnya adalah wassatussamsy atau jauhnya Matahari dari titik Haml menurut rata-rata perjalananannya.

BU’DU GHOIRU MUADDAL


Bab III-Ta'dil


Setelah berhasil mengumpulkan dan menemukan nilainya ta’dil markaz sesuai dengan caranya mencari ta’dil hoosoh, maka untuk menghasilkan nilainya bu’du ghoiru muaddal tambahkanlah antara kedua ta’dilan tersebut, dan jika dikalikan dengan qoidah 5 lalu hasil perkaliannya ditambahkan pada ta’dil markaz maka akan dihasilkan ta’dil syams, yaitu jarak dan geraknya matahari dari tempat yang sebenarnya.